Tawakal di Awal

Tawakal menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktivitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at. Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb, mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2). Di mana letak tawakal? Di awal atau di akhir? Ternyata, tawakal bukan hanya ada di akhir tapi bisa juga di awal. Misalkan, ketika kita diterima bekerja di suatu perusahaan, maka di hari itu juga tawakal harus sudah ada. Artinya, Allah memberikan pekerjaan, maka Allah pula yang nanti bisa mencabut pekerjaan ini. “Ketika Saudara buka pintu toko nih, jegrek. Pada saat itu tawakal harus sudah ada. Bukan selalu di akhir tawakal itu. Di awal, persiapkan diri buat tawakal, buat pasrah. "Hari ini,  Ya Allah,  mau laku, ga laku, yang penting saya sudah berusaha. Berusaha itu adalah ibadah dan ibadah itu mendatangkan rezeki, terserah Engkau,  Ya Allah. Engkau mau ngasih saya rezeki, terserah Engkau, terserah Engkau aja dah, pokoknya saya dagang,” jelas Ustadz Yusuf Mansur. Jadi sahabat SMI, sudahkah kita bertawakal kepada Allah? menggantungkan segala urusan dan menyandarkan hati hanya kepada Allah? insyaAllah. Sumber gambar: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.