Menulis Doa

writing-poets

Menulis doa dan mimpi, hal itu yang dilakukan oleh Dian Kurniawati. “Dulu mentor saya pernah ajarin, tulis mimpimu setidaknya lima tahun ke depan. Jangan yang kecil-kecil. Jangan yang remeh. Bikin aja yang gede, jangan pikirin gimana mewujudkannya. Bismillah,  tulis aja,” kisah Dian.

Dian menuliskan mimpinya di secarik kertas lalu ia tempel di belakang pintu kamar. “Sesekali saya lihat, cuma dilihat doang dan masih ngetawain diri sendiri, tinggi amat ya mimpinya, biarin lah,” pikir Dian saat itu.

Lima tahun kemudian, hati Dian tergerak untuk mengecek kembali mimpi-mimpinya. “Masya Allah, hampir semua terwujud! Dengan kuasa Allah, mimpi-mimpi yang saya tulis seenak jidat itu jadi kenyataan,” tuturnya.

Salah satu mimpi yang terwujud oleh Dian yaitu ketika ia kuliah di salah satu perguruan tinggi.

Pertengahan 2010, Dian diterima di salah satu perguruan tinggi, tapi bukan di program studi yang sepenuhnya dia inginkan. “Saya diterima di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Waktu itu banyak sekali orang yang mencibir saya. “Buat apa kamu belajar bahasa Indonesia?”,  “Kenapa nggak kuliah bahasa Inggris aja?”,  “Mau jadi apa kuliah bahasa Indonesia?”,” ungkapnya.

Situasi itu berat untuk Dian. Di satu sisi, tetangga dan kerabat bersikap demikian. Di sisi lain, dia berat hati dengan pilihan yang Allah berikan. Dian merasa ‘kecemplung’ di kolam yang tidak diinginkan.

“Dalam hati, saya sangat sedih dan marah, tapi saya berdoa, semoga suatu hari nanti saya bisa membungkam lisan-lisan mereka yang meremehkan saya dengan prestasi dan pencapaian yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka, bahkan oleh saya sendiri,” kata Dian.

Suatu hari, atas tugas mentor dari dakwah kampus, Dian menulis doa: “Di tahun kedua saya jadi mahasiswa, saya harus jadi Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) di kampus ini”.

Dian merasa lucu. Orang yang masuk perguruan tinggi setengah hati tapi ingin menjadi Mawapres. “Alhamdulillah, ketika masa orientasi, salah satu pembicara (alumni) bilang, “Dulu saya nggak mau kuliah di sini. Tapi, satu hal yang saya pegang, ketika saya ‘kecemplung’, saya harus jadi perenang terbaik,” ungkap Dian.

Sejak saat itu, Dian mantap untuk menjadi perenang terbaik dan menyelamatkan diri. Dian memohon kepada Allah agar mimpinya tercapai dan dia berusaha menjadi mahasiswa yang belajar dengan sepenuh hati, walau rasa malas dan capek sering juga mampir di hati.

“Saya yakin, Allah kasihan sama saya makanya Allah kabulkan impian saya jadi Mawapres. Waktu seleksi, saya sebenarnya sudah ikhlas kalau tidak jadi Mawapres, karena bisa ikut seleksi pun saya sudah senang luar biasa,” kata Dian.

Sampai saat ini, Dian tidak bisa melupakan momen ketika pengumuman seleksi Mawapres. “Saya nggak bisa lupain momen pengumuman seleksi Mawapres. Di meja bundar, semua peserta dan juri menyimak setiap kata dari ketua juri. Ketua juri mengumumkan pemenang dimulai dari urutan pemenang  9, 8, 7. Program studi saya belum juga disebut. Saya semakin deg-degan karena beberapa juri dan teman mulai lirik-lirik saya sambil senyum, kemudian pemenang dua disebut,” jelas Dian.

Suasana menjadi hening beberapa saat ketika ketua juri mengumumkan pemenang. “Program studi yang mewakili Fakultas Bahasa dan Seni untuk maju ke pemilihan Mawapres tingkat universitas adalah Bahasa Indonesia!”

Saat itu, Dian langsung merosot ke kolong meja karena grogi dan tidak percaya. “Ya Allah, dua hari kemudian adalah hari kelahiran saya. Pengumuman itu ibarat kado terindah untuk kedua orang tua saya yang telah resmi membawa saya ke dunia ini sekian tahun lalu.

Begitulah, saya benar-benar merasakan terkabulnya doa dan mimpi yang menurut akal saya tidak mungkin. Ini bukan semata karena doa saya, tapi doa orang tua saya,” tutup Dian.

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *