Keyakinan Berhasil Membawanya Umroh

Tempat-Mustajab-Doa-Di-Masjidil-Haram-Multazam-02

Bagi umat muslim, menginjakkan kaki di Baitullah pasti menjadi keinginan yang harus diwujudkan. Begitu juga dengan Anty, sahabat SMI dari grup 37. Dikisahkan oleh Mustopa Hidayattulloh yang juga berasal dari grup 37, jika keinginan Anty untuk umroh sudah ada sejak tahun 2013.

“Uang sudah terkumpul tapi apa daya, Allah belum memanggil. Keinginan buat umroh pun urung belum bisa terwujud karena kendala beberapa hal,” ujar Mustopa.

Hingga di tahun 2015, Anty bergabung dengan SMI dan mengenal istilah jemput bola. Yang pertama dilakukan oleh Anty dalam upaya menjemput bola adalah mengikuti Training Umroh, Makna dan Manasik yang dilaksanakan di kantor Wisatahati, beberapa bulan lalu.

Sebagai seorang sahabat, Mustopa pun ikut mendukung keinginan mulia Anty. Hampir setiap hari Mustopa selalu membagikan gambar Mekkah, Madinah, dan semua yang berhubungan dengan umroh di grup SMI. Tujuannya satu, untuk memotivasi Anty dan sahabat SMI yang lain agar bisa segera ke Baitullah.

“Sampai akhirnya pada malam hari Mba Anty bermimpi salat di depan Kabbah. Dia pun terbangun dan menangis, betapa besar kerinduannya untuk datang ke tanah suci. Sejak itulah dia langsung mengurus keberangkatan umrohnya. Subhanallah, semua prosesnya dimudahin dan bisa diurus dalam waktu yang sangat singkat,” tutur Mustopa.

Bagi Mustopa, Anty dinilai sebagai sosok yang dermawan dan sering bersedekah. Sampai akhirnya pada tanggal 24 April lalu, ketika Mustopa menanyakan kabar Anty, Anty memberitahu jika dia akan berangkat umroh.

“Saya kaget sekaligus terkejut dan bangga. Mba Anty meminta doa ke saya dan mengucapkan terima kasih. Mba Anty berterima kasih kepada semua sahabat SMI yang sudah mendoakan untuk bisa berangkat umroh,” katanya.

Anty juga sempat mengisahkan pengalamannya selama umroh. Harus ikhlas dengan apapun yang terjadi. Hal itulah yang selalu diingat oleh Anty selama berada di sana. “Anty sempat bilang gini dalam hati, Ya Allah kalau emang diizinin salat di sini, mudahin, tapi Anty juga gak mau kalau harus membuat orang lain sakit karena harus rebutan tempat,” ungkapnya.

Begitu sampai di batas karpet yang warna hijau, tiba-tiba ada seorang ibu melihat ke arahnya lalu menarik tangannya agar ia salat di tempatnya. “Terus yang salat di Hijir Ismail juga gitu, Anty bertiga sama teman sekamar, berangkat dari hotel jam 2.30 malam. Kita tawaf dulu terus alhamdulillah bisa pegang rukun yamani,” kisahnya.

Anty mengaku usaha, niat dan doa menjadi kunci selama berada di sana. Anty merasakan betul kemudahan-kemudahan selama berada di Mekkah dan Madinah.

“Pas baru pertama kali liat Kabah itu, pas turun di lantainya, rasanya itu masyaAllah banget. Cuma bisa nangis dan udah gak bisa ngomong apa-apa lagi. Kaya melayang, bukan jalannya kaya terbang, badan terasa ringan banget. Antara sadar dan gak sadar kaya ada di surga,” kata Anty.

Satu yang pasti, Anty merasa sangat bahagia dan bersyukur. Ia mengaku menjadi lebih ikhlas, padahal masalah datang silih berganti. Tapi, semua bukan lagi menjadi masalah yang berarti karena Anty percaya ada Allah dan ia pasrah. Selain itu yang paling penting adalah Anty kini merasa ibadahnya semakin dimudahkan oleh Allah.

Sumber gambar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *