Kebahagiaan yang Sebenarnya

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya.Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." ( QS. An-Nisa 4:116 ).
Seberapa sering kita berkata seperti “meniadakan” Allah?  Seringkali kita tidak sadar kalau sudah menciptakan tandingan-tandingan Allah., bertuhankan selain kepada Allah. “Di zaman yang banyak orang menuhankan duit, pemahaman akan tauhid menjadi demikian penting. Kalo ga, jadi cape. Apa-apa ukurannya harus ada duit. Mau sekolahin anak, kudu ada duit. Mau makan, kudu ada duit. Mau hidup enak, harus ada duit. Mau punya motor, mobil, kudu ada duit. Mau kerja, kudu ada duit, he he. Mau nikah, kudu ada duit, “ ungkap Ustadz Yusuf Mansur. Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang melupakan Allah, karena yang ada selalu dipikirkan hanya dunia saja. Tidak jarang, masih ada yang merasa tidak bahagia, tidak puas, hidupnya kosong meskipun harta sudah mengelilinginya. Lalu, apa kebahagiaan sebenarnya? Kebahagiaan yang sebenarnya yaitu ketika bisa selalu mengingat Allah di setiap aktivitas kita. Bagaimana caranya? Salah satunya dengan menghilangkan tandingan-tandingan Allah. Menunda salat karena mengerjakan tugas kantor, menuhankan uang, dan “Tuhan-Tuhan” lain yang tidak sepantasnya menjadi tandingan Allah, ditambah perilaku sebagian manusia yang menjadi tuhan kecil untuk yang lainnya. Akan indah tentu saja ketika kita selalu mengingat Allah, mendahulukan Allah, dan bersandar kepada Allah. Sumber gambar   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.