Keajaiban dari Allah

13bersyukur ala rasulullah

Allah selalu ada menolong hambanya di waktu yang tepat, setidaknya itulah yang dialami oleh sahabat SMI dari Tangerang, Fahmi yang diceritakan oleh Novi Lestari di grup SMI 27.

“Hari Senin kemarin dia survei yayasan itu, dan dia cuma punya uang Rp 20 ribu dan gak tahu tempat itu, tapi dia yakin sama Allah kalau dia bisa sampai tempat itu,” kata Novi.

Setelah salat subuh, Fahmi berangkat dari rumah diantar adiknya sampai fly over dekat rumah. Sesampainya di fly over, dia bertanya lokasi yayasan yang akan didatangi kepada polisi.

“Setelah dikasih tahu rutenya, tiba-tiba polisi itu mengajak Fahmi bareng ke tempat paling dekat ke Kota Bumi, setelah nebeng mobil polisi, Fahmi ditunjukkan angkot ke Kota Bumi. Perjalanan naik angkot lumayan jauh, ketika turun Fahmi memberi uang Rp5000 dan dikembalikan Rp2000, Fahmi baru sadar perjalanan jauh dari rumahnya ke yayasan itu cuma Rp3000, ” kisah Novi.

“Wah kejadian-kejadian seperti itu pasti pernah menimpa kita semua ya mba, rezeki itu namanya hanya kadang kita lupa bersyukur,” kata Muhammad Badruzaman menanggapi kisah Fahmi.

Keajaiban, sesuatu yang sepertinya tidak mungkin bisa saja terjadi tapi karena Allah mengizinkan maka terjadilah. Namun kadang kita tidak sadar sampai lupa bersyukur. “Sebenernya keajaiban-keajaiban itu sering terjadi di hidup kita, tapi kalau bukan orang yang beriman pasti pikirannya hal biasa,” kata Novi.

Kita sering merindukan keajaiban.

Dan terjadilah hal-hal ini:

Sakit keras, tahu-tahu sembuh. Itulah keajaiban!

Tabrakan maut, hanya kita yang selamat. Itulah keajaiban!

Divonis mandul, akhirnya punya anak. Itulah keajaiban!

Anak badung, tiba-tiba soleh. Itulah keajaiban!

Betulkah itu keajaiban? Ya, betul

Tapi, yang sebenarnya, kalau anda TIDAK PERNAH mengalami sakit keras, tabrakan maut, dan divonis mandul, itu saja sudah cukup disebut keajaiban. Betul apa betul?

Selain itu, kalau hidupmu baik-baik saja, lebih sering sehat daripada sakit. Lebih sering senyum daripada nangis. Lebih sering kenyang daripada lapar. Itu pun sudah cukup disebut keajaiban. Karena sungguh, tak semua orang menikmatinya.

Jangan lagi kita menunggu ini-itu untuk bersyukur. Sekiranya kita menjauhi kufur dan rajin bersyukur, niscaya rezeki semakin deras mengucur. Bukankah nikmatNya teramat banyak, tak terukur?

(Ippho Santosa)

Sumber gambar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *