Jadi The Winner dengan Tawakal

Pasrah-ikhlas

“Allah menginginkan kita menjadi The Winner, bukan menjadi The Loser. Kebanyakan orang siap menerima siang tapi tidak siap menerima datangnya malam. Kita ini jarang berterima kasih kepada Allah. Kita ga siap dan gak terima saat dikasih kesusahan, dikasih penyakit, dikasih ujian, dikasih bala, dikasih musibah. Pengennya seneng terus, pengennya happy terus, pengenya dapet karunia yang berupa kebahagiaan yang ukurannya adalah kacamata manusia. Di saat itulah kita dituntut untuk bertawakal,” kata Ustadz Yusuf Mansur.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Mamik Puji Tami, sahabat SMI dari grup 50. Mamik mengaku, materi tentang tawakal ini cocok dengan keadaannya saat ini sebagai wiraswasta jual beli genset. Rumah sekaligus tempat usaha yang sudah ditempati selama lebih kurang dua bulan terancam harus segera ditinggalkan karena uang kontrak yang belum dibayarkan sama sekali.

“Kami menjalani hidup dengan meminjam uang teman dan saudara, juga untuk ongkos operasional menjalankan bisnis. Alhamdulillaah hati saya masih tenang aja, gak ada rasa takut karena semua saya serahkan kepada sang Maha Pemilik Dunia dan segala isinya. Membaca Al Mulk, Yaasiin, Arrahman, Alwaqiah, yang diajarkan UYM saya laksanakan tiap habis salat. InsyaAllah istiqomah dan tetap husnudzon terhadap ketentuan-Nya,” ungkap Mamik.

Beruntung, dalam keadaan “babak belur” seperti ini ditambah dengan keadaan suaminya yang sedang sakit, Mamik masih istiqomah bersedekah untuk Sebar Sejuta Buku (SSB), acara Istiqlal hingga ke memberi kepada penjaga toilet. Ikhtiar tetap dilakukan olehnya, Mamik hanya memohon kepada Allah agar selalu diberikan hidayah untuk selalu bermuhasabah diri dan menjadi muslim yang lebih baik.

“Ini rumah tempat tinggal dan tempat usaha kami yang sedang kami perjuangkan dan selalu saya bacakan zikir, salawat, dan baca Alquran. Mobil Kamis ini terakhir kami janji bayar cicilan yang nunggak sejak tanggal 20,” tambahnya.

Bisnis yang turun naik insyaAllah selalu membuat Mamik dan keluarga kuat. Tahun 2015 lalu, dengan kondisi hampir mirip seperti saat ini Mamik nekat mengikuti patungan qurban sapi sebesar Rp 5 juta ke rumah yatim. Alhamdulillah, sebulan kemudian Allah membayar tunai sedekahnya dengan keuntungan Rp 50 juta, lalu bulan berikutnya Rp 35 juta. Hal itulah yang membuat Mamik yakin bahwa pertolongan Allah dan tawakal bisa menjadi kunci utama agar keluarganya bisa tetap bertahan.

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *